Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2009

Planet X Bukan Planet Nibiru

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)

Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA
Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.


Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA
Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.

“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

Ditulis oleh pramesti pada 6/24/08

Rabu, 02 Desember 2009

: Bintang Masif Itu Pun Tutup Usia

Obituari Djoni N. Dawanas (1949 – 2009)

Ditulis oleh Tri L. Astraatmadja dan Avivah Yamani.



Bagi mahasiswa-mahasiswa astronomi, kata “Astrofisika” akan diasosiasikan dengan dua orang: Profesor Winardi Soetantyo dan Profesor Djoni N. Dawanas. Pak Winardi (alm.) adalah penulis buku teks “Astrofisika: Mengenal Bintang” yang dikenal sebagai “buku sakti” atau “buku suci” para mahasiswa astronomi—karena isinya yang menyeluruh dan penjelasannya yang singkat namun jelas dan padat—dan Pak Djoni (demikian kami memanggilnya) adalah dosen yang selama bertahun-tahun telah mengajar mata kuliah Astrofisika.

Dr. Djoni N. Dawanas. Kredit : AS ITB

Bagi mahasiswa baru astronomi, kuliah Pak Djoni merupakan kuliah penting yang menanamkan dasar-dasar pemahaman astrofisika yang akan sangat berguna dalam kuliah-kuliah selanjutnya. Kenangan akan kelas astrofisika dasar yang diberikan Pak Djoni tentunya akan terus ada dalam benak setiap mahasiswanya. Cerita demi cerita tentang cara penentuan jarak bintang sampai evolusi bintang seakan membawa mahasiswa masuk dalam dunia baru… dunia yang tak tersentuh secara fisik. Dunia yang membawa kesadaran bahwa para astronom bekerja dalam laboratorium maharaksasa dengan objek yang hanya bisa diamati tanpa bisa disentuh.

Ketika kelas Astrofisika mulai membahas mengenai peran angin bintang dalam evolusi sebuah bintang, Pak Djoni—pria kelahiran Sukabumi 9 Maret 1949, hampir pasti akan membandingkan bintang dengan seseorang yang sedang mengikuti program diet: “Orang gendut seperti saya ini harus diet kalau mau sehat dan panjang umur,” mendengar candaan ini biasanya kami akan tertawa karena Pak Djoni memang badannya besar. Ia lalu akan melanjutkan, “Nah, bintang yang massanya tinggi juga punya program diet untuk memperpanjang usianya, ia akan membubuskan sebagian kecil massanya dalam wujud angin bintang.”


Foto yang diambil oleh Teleskop Antariksa Hubble ini menampilkan pengaruh angin bintang terhadap lingkungan di sekitarnya. Angin bintang yang berhembus dengan hebatnya dari sebuah bintang masif akan bertabrakan dengan materi-materi di sekitarnya sehingga akan terbentuk semacam ``gelembung

Selanjutnya dimulailah pendidikan kami mengenai angin bintang dan bagaimana perannya dalam evolusi sebuah bintang. Inilah subjek yang digemari beliau dan sudah menjadi salah satu tema penelitiannya selama bertahun-tahun.

Pada sesi-sesi kuliah beliau sebelumnya kami telah dibuat sadar bahwa nasib sebuah bintang sebenarnya sudah digariskan kurang-lebih semenjak lahir, dan faktor yang paling menentukan adalah berapa massa bintang tersebut ketika ia lahir. Dalam hal ini “lahir”nya sebuah bintang dapat dianggap sebagai saat ketika bintang tersebut mulai memiliki inti yang menghasilkan reaksi nuklir pembakaran atom Hidrogen.

Bintang dapat tetap stabil selama jutaan hingga milyaran tahun adalah karena adanya kesetimbangan antara dua gaya. Yang pertama adalah gaya gravitasi yang menarik seluruh massa bintang ke arah pusat bintang, dan yang kedua adalah tekanan radiasi yang mendorong materi dan energi hasil reaksi nuklir mengalir ke luar bintang. Semakin besar massa sebuah bintang, semakin besar gaya tarik gravitasi yang mengancam keruntuhan. Untuk menghasilkan tekanan radiasi yang dapat menjadi penyeimbang maka sebuah bintang masif harus membakar semakin banyak massa di dalam tubuhnya. Ini akan memperpendek usia bintang masif tersebut. Kita dapat menghitung secara kasar bahwa usia sebuah bintang yang massanya 60 kali massa Matahari kita “hanya” akan hidup selama 3 Juta tahun, sementara Matahari kita dapat hidup selama 10 Milyar tahun, dan bintang yang massanya hanya 1/10 kali massa Matahari kita dapat hidup begitu lama selama 1 Trilyun tahun.

Dengan demikian bintang juga mengalami perubahan seiring dengan waktu, akan tetapi perubahan ini begitu lambat apabila dibandingkan dengan umur manusia. Namun bintang masif berubah relatif lebih cepat dibandingkan bintang seperti Matahari kita. Apabila Matahari kita relatif stabil selama beberapa Milyar tahun, sebuah bintang masif hanya dapat stabil selama beberapa Juta tahun. Bagaimana kemudian angin bintang dapat memperpanjang usia sebuah bintang? Lagi-lagi hal ini bergantung pada massa bintang yang sedang dibicarakan dan tahap evolusinya sudah sampai mana.

Selain memancarkan radiasi dalam wujud photon, bintang juga memancarkan partikel. Pancaran partikel inilah yang disebut angin bintang. Dua hal penting yang perlu diamati dari angin bintang berapa jumlah massa yang dihembuskan relatif terhadap total massa bintang (ini disebut juga dengan laju kehilangan massa), dan juga berapa kecepatan angin tersebut. Pengamatan menunjukkan bahwa berbagai-bagai jenis bintang memancarkan berbagai-bagai jenis angin bintang pula.

Setiap tahunnya bintang seperti Matahari kita menghembuskan angin bintang hanya sejumlah seperseratus Trilyun bagian dari total massa bintang tersebut, dengan kecepatan angin sekitar 300 km per detik. Karena bintang seperti Matahari kita ini dapat hidup selama 10 Milyar tahun, kita dapat hitung bahwa jumlah massa yang dihembuskan angin bintang seumur hidupnya hanya ~0.01% persen saja dari total massa. Ini bukan jumlah yang signifikan dan kita dapat menyimpulkan bahwa angin bintang tidak berperan penting dalam evolusi bintang seperti Matahari.

Untuk menekankan hal ini Pak Djoni akan menyimpulkan, “Bintang seperti Matahari kita itu termasuk bintang bermassa kecil, sudah kurus jadi tidak perlu diet lagi.” Mahasiswa yang berbadan kurus biasanya akan ditunjuk beliau, “kamu sudah tidak perlu diet lagi kan? Saya nih yang perlu diet.”

Bintang tipe Wolf-Rayet adalah tipe bintang masif dan panas dengan angin bintang berkecepatan tinggi. Setiap tahun sebuah Bintang Wolf-Rayet dapat menghembuskan angin bintang sebesar seperseluruh ribu bagian dari massa totalnya dan memperkaya ruang antar bintang dengan materi baru yang di kemudian hari menjadi bahan mentah pembentuk bintang generasi kedua

Inilah yang menarik apabila kita meninjau sebuah kasus ekstrim yaitu pada bintang masif yang luar biasa terang dan panas. Dalam setahun bintang ini dapat menghembuskan angin sebanyak seperseratus ribu bagian dari total massa bintang tersebut dan kecepatannya pun luar biasa tinggi yaitu sekitar 2000 km per detik. Walaupun bintang masif hanya hidup beberapa puluh juta tahun namun waktu yang singkat itu cukup untuk membuang massa sejumlah beberapa kali massa Matahari kita. Ini kira-kira ~10% dari massa total bintang tersebut dan ini adalah jumlah yang cukup signifikan. Dengan membuang sekitar sepuluh persen massa total selama hidupnya yang singkat itulah sebuah bintang masif dapat memperpanjang usianya dan memperlambat hal yang tak terhindarkan yaitu saat ketika bintang tersebut pada akhirnya akan runtuh dan membentuk lubang hitam.

Begitulah Pak Djoni menerangkan program diet bintang masif, dan yang tak kalah menarik adalah bagaimana Pak Djoni mengakhiri kuliahnya dengan bertanya kepada mahasiswa-mahasiswanya, “lantas angin bintang ini pergi ke mana? Selama puluhan juta tahun ada materi total sebanyak massa Matahari kita dihembuskan, terus jadi apa materi ini?” Seorang mahasiswa yang sudah membaca kisah hidup bintang-bintang masif akan tahu jawaban atas pertanyaan Pak Djoni, namun pertanyaan Pak Djoni biasanya dijawab dengan sunyi.

Pak Djoni kemudian memperkenalkan kami pada sebuah narasi besar tentang siklus kehidupan bintang di alam semesta, sebuah narasi yang detail-detailnya akan kami pelajari dalam fase-fase berikutnya dalam karier kami sebagai astronom. Narasi ini masih dibangun bahkan hingga sekarang. “Angin bintang itu membawa elemen-elemen berat yang dihasilkan di inti bintang. Elemen-elemen ini akan memperkaya komposisi materi antar bintang.”

“Di kemudian hari bintang masif tersebut akan meledak dan menghempaskan lebih banyak lagi elemen-elemen berat. Materi antar bintang yang telah diperkaya ini nantinya dapat menggumpal membentuk bintang generasi berikutnya. Pada bintang generasi baru ini terkandung elemen-elemen berat yang tercipta di dalam inti bintang generasi sebelumnya.”

Kuliah kemudian berakhir. Pak Djoni lalu merokok dan kembali ke kantornya dan melanjutkan penelitiannya. Selain meneliti angin bintang beliau juga meneliti sebuah bintang tipe khusus yang dinamakan Bintang Be (atau disebut juga Bintang B-emisi). Mahasiswa yang mengerjakan skripsi di bawah bimbingan Pak Djoni hampir pasti akan ditawari mengerjakan topik yang terkait dengan Bintang Be, sampai-sampai ada kelakar “to Be or not to Be” yang mengacu pada bintang Be. Di kalangan para perokok Pak Djoni dikenal secara berkelakar sebagai anggota Dewan Suro—Suka Rokok—dengan posisi sebagai Ahli Hisap Utama. Beliau menamatkan program doktoralnya di Universitas Montpellier II – USTL pada tahun 1981. Pada tahun 2008 beliau diajukan untuk menjadi Guru Besar Astronomi dan berhak menyandang gelar Profesor.

Kini kuliah-kuliah Pak Djoni tinggal kenangan. Pada tanggal 30 November 2009 Pak Djoni menghembuskan nafas terakhirnya karena gagal ginjal, beberapa bulan sebelum beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar Astronomi.

Sebuah bintang masif yang telah menghembuskan angin bintang seumur hidupnya kini telah tiada, namun bintang-bintang generasi kedua telah diperkaya oleh keberadaannya.

Selasa, 01 Desember 2009

Kiamat 2012

Secara Sains, Isu Kiamat 2012 Hanya Isapan Jempol...

 FOTO-FOTO: COLUMBIA PICTURES
Daratan terbelah dalam film 2012.


Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono
KOMPAS.com - Film 2012 yang ditayangkan di bioskop menyita perhatian publik di tanah air. Meskipun larangan menonton muncul dari Majelis Ulama Indonesia di berbagai daerah, antrean panjang calon penonton justru kian panjang.

Publik semakin penasaran, sementara di lain pihak MUI khawatir film ini bisa mengguncang keyakinan iman penonton. Titik kontroversi dari film Hollywood ini tidak lain adalah adegan kiamat yang menjadi pesan cerita film ini.

Padahal, jika dikaitkan dengan kajian sains, film ini tidak lain berangkat dari isapan jempol belaka. Ide kiamat di film ini berangkat dari ramalan Suku Maya bahwa pada 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat di bumi.

Avivah Yamani dari Langit Selatan menepis ramalan ini. Ia mengatakan, prediksi kiamat bangsa Maya pada 21-12-2012 tidak lain karena di tanggal itu adalah akhir dari siklus kalender. Atau, dengan kata lain kehabisan angka. Sebab, penanggalan Maya berlandaskan sistem bi-desimal (bilangan 20).

Kejanggalan lain adalah mengenai bergesernya kerak dan lempeng bumi secara ekstrim akibat pengaruh badai Matahari seperti yang digambarkan di film itu. Di 2012 digambarkan bahwa lidah Matahari dapat menghasilkan neutrinos, yaitu semacam gelombang microwave yang dapat memanaskan suhu inti bumi.

Padahal, seperti yang diungkapkan Dhani Herdiwijaya, ahli Fisika Matahari dari Institut Teknologi Bandung, lidah Matahari adalah fenomena umum yang terjadi sepanjang siklus keaktifan Matahari selama 11 tahun. Aktifnya Matahari ini ditandai dengan kemunculan bintik hitam di permukaan.

Saat bintik hitam muncul, di perut Matahari terjadi rotasi aliran massa yang dapat mempengaruhi gaya medan magnetnya. Pada puncak aktivitasnya, medan magnet ini berpusar hingga menembus ke lapisan fotosfer.

Temperaturnya 4.000 4.500 derajat Kelvin, sangat kontras dengan suhu di sekelilingnya sebesar 5.800 derajat Kelvin. Aktivitas medan magnetik yang kuat di bintik matahari ini dapat memanaskan lapisan kromosfer Matahari dan menimbulkan flare (ledakan cahaya) dan Corona Mass Injection (CME).

Aktivitas Flare dan CME yang tinggi bisa menimbulkan badai antariksa. Partikel-partikel terlontar yang sampai ke bumi berdampak signifikan pada iklim di Bumi dan dapat juga menimbulkan badai magnetik yang bisa menganggu komunikasi radio.

Pendinginan global
Yang jadi persoalan, ucapnya, saat ini tengah terjadi kecenderungan penurunan aktivitas Matahari. Tingkat radiasi medan magnetik Matahari terus turun. Kini berada di titik minimal. Dalam beberapa tahun terakhir, bintik matahari juga sangat jarang terbentuk.

Untuk itu, ia merasa tidak yakin jika di 2012 bakal terjadi badai Matahari ekstrim seperti yang dispekulasikan masyarakat. Yang orang-orang tahu saat ini, Bumi tengah terjadi pemanasan global. "Padahal, sebetulnya, kita juga tengah menghadapi kemungkinan kondisi global cooling," ujar Dhani kemudian.

Jadi, jika pun terjadi kiamat, itu bisa jadi karena kita tidak dapat menggunakan peralatan telepon, televisi, dan jaringan komunikasi, secara sementara akibat pengaruh serangan gelombang elektromagnetik dari badai Matahari. Itu pun jika terjadi...